Pagi ini saya membaca The Jakarta Post dan ada healdine kalau dosen asing dipersilahkan untuk menjadi dosen tetap di universitas negeri di Indonesia. Membaca ini, saya baru paham sepertinya di Indonesia memang belum ada regulasi mengenai dosen asing. Padahal, di universitas swasta dosen asing sudah bukan hal yang langka. Di almamater saya pun, saya kenal ada dosen asing yang sekaligus melanjutkan studi dia disini.

Balik lagi dosen asing di Indonesia. Dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), tujuan diperbolehkannya dosen asing untuk memasuki Indonesia dan mengajar di Tanah Air adalah untuk menghasilkan inovasi dan publikasi. Ini dari berbagai sumber dan sepertinya tujuannya perlu diluruskan.

Saya pribadi setuju kalau ada dosen asing yang diperbolehkan untuk menjadi dosen tetap di sini. Namun kalau tujuannya hanya sekedar menghasilkan inovasi dan mendukung publikasi internasional, tanpa ada dosen tetap pun ini bisa dilakukan. Sehingga tidak akan perlu bingung-bingung dan turut pusing tentang Perpres Nomor 20 Tahun 2018. Karena dosen-dosen di sini sudah banyak yang melakukan inovasi dan memiliki publikasi yang bagus.

Apa gunanya jadi dosen tetap disini, kemudian hanya dituntut untuk meningkatkan publikasi ilmiah dan penelitian? Ya kalau seperti ini mah melakukan kolaborasi penelitian bisa. Lebih murah juga, hehehe. Di Institute of Tropical Disease Universitas Airlangga banyak peneliti dari luar negeri yang melakukan penelitian tentang penyakit tropis dan bekerjasama dengan ITD Unair. Jadi mereka tidak harus menjadi dosen tetap.

Kalau menurut saya, 10 persen kuota dosen asing yang melalui Nomor Induk Dosen Khusus (NIDK) bisa dimanfaatkan untuk lebih mengurus manajerial. Jadi mencari orang-orang yang paham bagaimana pendidikan itu seharsunya dilakukan. Jadi dosen-dosen itu tugas utamanya bukan membimbing mahasiswa, tapi membimbing dosen di Indonesia. Kalau di Hogwarts novel kelima namanya High Inquisitor yang dilakukan oleh Profesor Umbridge. Tugasnya adalah menjaga kualitas dosen, baik mengajar maupun publikasi dengan melakukan pelatihan-pelatihan untuk dosen kita.

Jadi fokus pengajar asing disitu lebih kepada konsultan pendidikan namun berstatus dosen. Lebih murah (karena statusnya dosen) dibandingkan dengan mengambil konsultan yang rate nya berdasarkan jam. Dia mengajar materi-materi yang sulit diajarkan di Indonesia. Critical Thinking, Leadership, Innovation, Writing, Public speaking, hal-hal seperti ini yang sepertinya perlu diajarkan.

Alih-alih mengajar fokus ke akademis dan hard skills, kita lebih butuh pengajar yang bisa mengajari kita bagaimana soft skills itu didapatkan. Semacam seminar 7 Habbits for Highly Effective People, dan hal semacamnya. Jika hal-hal ini tidak dimungkinkan, maka memilih dosen asing yang akan mengajar di Indonesia harus benar-benar kritis.

Satu, cari calon dosen yang memang ingin mengajar di Indonesia bukan karena gaji, tapi karena memang ingin berbuat sosial. Saya lama di AIESEC, jadi program seperti ini sangat mungkin untuk dilakukan. Karena kalau kita memang mencari dosen yang berbasis gaji, maka akan sulit sekali. Apalagi gajinya setara dengan gaji mereka di negara asal. Bisa-bisa universitas tambah bangkrut saja. Belum lagi muncul rasa iri antar dosen nantinya.

Kedua, cari dosen yang benar-benar berkualitas dan di Indonesia memang tidak ada. Jangan sampai lulusan kita yang ingin menjadi dosen kesulitan melamar karena bersaing secara langsung dengan dosen asing dan universitas lebih memilih dosen asing karena lebih kelihatan “internasional”, padahal kualitas lokal. Jadi ambil dosen-dosen yang memang kompetensinya di Indonesia tidak atau belum ada.

Saya dulu sering mengundang mahasiswa asing untuk melakukan internship di Indonesia selama di AIESEC. Lumayan sulit. Tapi mudah ketika yang kita tawarkan adalah social fulfillment dan volunteer. Mereka lebih tertarik dengan hal-hal seperti ini.

Jadi intinya, saya setuju dengan program ini. NAMUN, lebih baik bukan program dosen tetap. Tapi semacam pertukaran antar dosen untuk 6 atau 12 bulan. Programnya difokuskan pada development of leadership, soft skills, critical thinking, dan tailored made program sesuai dengan kapasitas maisng-masing dosen. Contohnya, untuk meningkatkan publikasi jurnal ilmiah internasional. Maka fokusnya adalah mencari dosen asing yang bisa mengajari dosen-dosen di Indonesia untuk menulis dengan baik di jurnal internasional. Lebih murah dan tidak ribet. Karena fokusnya transfer ilmu.

Penelitian di Indonesia sudah bagus kok, tapi sayangnya belum dipublikasi karena terkendala bahasa. Jadi kalau tujuannya adalah menghasilkan inovasi dan publikasi. Tanpa dosen asing tetap pun, kita bisa mengejar.

My name is Manaf, a full time learner. Passionate about sustainable development, environment, and youth education.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *