Saya memiliki pengalaman bekerja paling singkat. Yakni bekerja di start up bernama X, suatu start up baru di Surabaya yang berfokus sebagai community network dan juga platform untuk komunitas. Awalnya saya ditawari untuk bekerja disana lewat WA, mengingat saya memiliki potensi dan sepertinya cocok dengan bidang yang saya lakukan. Akhirnya saya berkata “YES, I am IN”. Sekalian belajar budaya start up dan juga bagaimana kiranya membuat satu hal seperti itu.

Ada banyak hal yang saya tanyakan tentang usaha ini. Saya mengerti WHY start up ini muncul. Karena banyak komunitas dan juga organisasi di Surabaya yang berjalan sendiri-sendiri. Hanya menuntut namun tanpa aksi. Oleh karena itu, si Mbak nya ini membuat usaha seperti ini yang nantinya akan bergerak juga seperti kickstarter atau krowd.id. Menarik sekali dan saya semangat diawal awal.

Jabatan saya adalah Community Manager yang bertugas menghandle dan mencari komunitas yang bisa diajak bekerja sama pada tanggal 3-4 Februari 2018 kemarin untuk melakukan suatu charity dan temu komunitas. Akhirnya saya kontak komunitas-komunitas yang saya tahu di Surabaya. Saya desainkan proposal ke komunitas, saya usahakan feed instagram juga bagus sesuai dengan guideline yang anak desain bikinkan.

Sepertinya pekerjaannya menarik. Namun mengapa saya berhenti? Ada banyak hal yang perlu saya garis bawahi. Pertama-tama saya memang tidak ada kontrak. Inilah kebodohan pertama saya. Harusnya saat pertama kali setuju dengan pekerjaan, mintalah kontrak yang isinya menjelaskan apa pekerjaan kita, tugasnya apa saja, berapa jam setiap hari kita harus bekerja, berapa gaji kita, dsb nya. Karena saya belum pernah bekerja, saya menyepelekan hal ini dan saya pikir, nanti saja dulu lah. Setelah tanggal 3-4 nanti. Namun ternyata ada tidaknya kontrak bekerja ini penting sekali.

Kedua adalah suasana kerja yang kurang profesional. Saya pikir ketika bergabung dengan ini everything is ready. Jadi saya tinggal memaksimalkan bekerja untuk event atau community manager. Namun ternyata belum ready semua. Aplikasi dan website belum jadi, sehingga pada saat acara tanggal 3-4 Februari itu kita belum bisa promosi. Jadi membuat acara charity dan temu komunitas ini rasanya tidak sesuai target, karena tidak bisa memaksimalkan marketing.

Kita yang bekerja disana juga masih seperti bekerja serabutan. Senior saya yang bekerja dengan kontrak bukan pekerja full time hanya digaji dengan 2 juta satu bulan dengan beban kerja yang lumayan besar. Apalagi kadang-kadang kamu sering disuruh-suruh kayak buruh. Print kan ini dong, belikan ini dong, pasang ini dong. Selama bekerja saya menggunakan uang saya pribadi untuk hal-hal ini. Sehingga lebih tepat saya seperti volunteer atau buruh.

Hal ketiga adalah bos saya ini yang keras kepala. Sulit sekali diberi masukan perihal acara atau event. Padahal, yang saya inginkan adalah acara ini agar sukses. Namun pemberian masukan sangat sulit dilakukan. Bekerja di start up mungkin menyenangkan karena kamu bisa berinteraksi dengan bos setiap hari. Namun kalau kamu sudah tidak cocok dengan bos mu, atau kamu mendapatkan bos yang buruk, tamat sudah riwayatmu.

Keempat adalah saya belum berniat bekerja secara full time. Saya ingin melanjutkan studi S2 kemudian bekerja di United Nations dan memiliki usaha sendiri juga. Itu adalah mimpi saya. Bekerja di start up ini hanya sampingan, hati saya belum bisa 100%. Saya hanya ingin acara pada tanggal 3-4 Februari itu selesai dan suskes. Setelah itu, I want to do the other things. Karena mimpi saya tidak disini.

Hal yang membuat saya benar-benar keluar adalah sifat sang bos yang ternyata tidak enak diajak bekerja. Dia bahkan memangsakan partner kerja saya sebagai orang yang bersalah agar tidak membayar tagihan. Jadi pada tanggal 3-4 Februari kami sudah meminta kepada bos agar acara ada di lantai dua saja. Karena lantai satu kotor dan belum siap dipakai. Namun si bos berkata bahwa ini adalah garage sale, maka harus digarasi. Sedangkan acara ada di dua lantai makan butuh dua sound system dan dua panggung. Mau tidak mau kita harus menyewa satu lagi sound system portable untuk lantai atas.

Hari pertama acara dimulia hrausnya jam 9. Tapi kantor baru dibuka jam 8. Saya sudah disana sejak jam 7 pagi dan harus menunggu tempat acar dibuka. Tenant sudah pada datang. Kapal Api, Chick and Roll, dan macam-macam. Bahkan yang bersih-bersih sudah disana sejak jam 6 karena si bos bilang jam 6 harus bersih-bersih. Akhirnya hari pertama finish, namun harus selesai jam 3 sore karena tidak ada acara lain. Hari berikutnya pun demikian, harus dimulai jam 10 pagi dan berakhir lebih awal.

Drama dalam start up itu banyak banget. Disini, si bos menolak membayar tagihan sound system dan lain-lain karena katanya jelek dan yang disalahkan partner saya. Katanya pinjam tanpa izin perusahaan. Selain itu ada juga banyak sekali masalah yang sepertinya bisa diselesaikan seandainya sang bos sendiri tahu usaha start up ini nanti mau dibawa kemana. Mengingat banyak sekali drama yang menguras energi ini, saya memutuskan untuk menyudahi partisipasi saya. Apalagi sang bos juga sempat tanya setelah partner saya mengundurkan diri. Oke, saya keluar juga.

Hal yang bisa saya ambil dari sini adalah kalau punya ide, kerjain saja. Masa bodoh dengan hal yang lain. Do it first, think later. Sepertinya ini yang dilakukan oleh si bos saya. Namun sayang, dia lupa kalau dia berhubungan dengan banyak manusia sehingga muncul masalah dimana-mana. Teman saya yang punya Mr. Clean (usaha cleaning service di Surabaya) melakukan segalanya dia sendiri tapi tidak menyinggung orang lain. Dia memulia dari hal kecil. Mantan bos saya ini inginnya besar langsung tanpa melihat kondisi. Akibatnya, tidak bisa berhasil sesuati target.

 

My name is Manaf, a full time learner. Passionate about sustainable development, environment, and youth education.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *