Teman-teman dari bidang seni ku selalu bilang harusnya kamu ambil seni saja Manaf. Harusnya kamu ambil jurusan komunikasi saja Manaf. Harusnya kamu ambil ilmu sosial saja Manaf. Sedangkan teman-teman dari jurusan pasti bilang, kamu cocok jadi dosen. Ambil S2 apa Naf, tetep Biomaterial? Tissue Engineering?

Ketika aku pikir baik-baik, pertanyaan ini seperti menanyakan sebenernya aku ini siapa sih? Bidangku ini apa? Kalau di dunia social science aku juga tidak memiliki pendidikan formal, sedangkan di bidang teknik secara akademis saya bukan genius juga. Jawabannya adalah saya ingin menjadi bridging antara dua bidang ini. Anak-anak sosial sering bilang kalau anak teknik atau sains terlau teoritik dan kurang aksi. Anak-anak teknik bilang kalau anak-anak sosial kebanyakan omong dan tidak tepat sasaran. Dua hal yang berbeda ini patut untuk diselaraskan untuk membentuk negara ini lebih baik.

Kembali lagi ke pilihan aku. Dari dulu, orang memang selalu menyarankan agar aku ambil bidang sosial. Sejujurnya, saya bingung kalau mau mabil bidang sosial itu bidang apa. Aku tidak tahu harus mengambil apa. Sedangkan jika aku mengambil bidang IPA, aku tahu aku suka melakukan penelitian. Sehingga aku memutuskan untuk berkarir di bidang IPA.

Berkarir di bidang ini bukannya sulit? Banget. Aku memiliki kelemahan di matematika dan hitung-hitungan secara teoritis. Aku pernah mendapatkan nilai D di kalkulus. Nilai matematika aku waktu UNAS juga jelek. Sekitar 65-70 (aku sejujurnya lupa). Namun, di bidang-bidang alam seperti biologi dan lain sebagainya nilai aku lumayan bagus.

Melihat hal ini aku juga mulai berpikir. Sepertinya nilai buruk ku di bidang matematika ini karena memang otak saya sudah cenderung berkata tidak bisa. Padahal, di bidang Fisika dan lain lain nilai aku masih bisa minimal B (cukup). Ketika aku tanyakan pada diri sendiri, sebenarnya otak ku yang berkata aku tidak bisa. Ini sulit banget. Pusing aku mikirnya. Padahal, dengan menyelesaikan masalah itu otak kita bisa berkembang.

Setelah menonton video dari TED oleh Carol Dweck ini membuat aku berpikir kembali tentang masa kuliah-kuliah dulu. Nilai-nilai saya yang kurang memuaskan itu bisa saja hasil dari kurangnya kerja keras dan growth mindset. Apappun masalahnya, tabrak dengan positivitas. Sayangnya, ketika menghadapi soal sulit atau masalah sulit otak aku ini langsung tanya, “what to do now? Oh sh*t, gue lupa caranya”. Ini masalah yang sering terjadi ketika aku mabil mata kuliah teknik.

Karena aku tidak mungkin bisa kembali ke masa lalu dan merubah semuanya, aku harus mulai dari sekarang. Mengingat aku juga akan mengambil gelar master di bidang teknik juga, growth mindset harus benar-benar aku tanamkan. Instead of saying I can’t, I have to start saying I haven’t got it YET. Instead of saying I failed, I have to start saying I’m learning. Harus berpikir positif terhadap diri sendiri dan bekerja keras. I love new challenge instead of shivering in fear of failure.

Resolusi 2018: Mulai menumbuhkan GROWTH MINDSET.

My name is Manaf, a full time learner. Passionate about sustainable development, environment, and youth education.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *