“Kebangkitan nasional bukanlah satu peristiwa sebagaimana biasanya umum menganggap, dan dihubungkan dengan Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908. Kebangkitan nasional adalah suatu proses, satu periode, dalam mana lahirnya Boedi Oetomo bukanlah satu-satunya peristiwa sejarah, tetapi satu mata rantai belaka dan tidak lebih, juga tidak lebih penting daripada yang lain, juga tidak kurang penting daripada yang lain”

Pramoedya Ananta Toer dalam Nyanyi Seorang Bisu I (2000)

 

Setiap tanggal 20 Mei, di Indonesia diperingati Hari Kebangkitan Nasional. Biasanya dilakukan upacara bendera. Di sosial media ramai dengan tagar #harikebangkitannasional atau #harkitnas. Sebenarnya apa signifikansi dari Hari Kebangkitan Nasional di Indonesia? Mengapa tanggal 20 Mei? Mengapa harus diperingati?

Hari Kebangkitan Nasional pada hakikatnya adalah hari dimana bangsa Indonesia sadar akan kebangsaannya atau national consciousness. Kalau menurut sepemahaman saya adalah bangsa ini sudah mulai bertanya kira-kira apa yang bisa dilakukan untuk menyatukan bangsa, bagaimana bangsa ini bisa maju dan merdeka. Karena pada saat itu Indonesia masih dijajah oleh negara Belanda. Masyarakat kita belum banyak yang sadar dan peduli untuk pembangunan bangsa karena konsep bangsa Indonesia juga belum ada. Semuanya masih mengurus kehidupan pribadi masing-masing.

Tidak mengherankan jika Hari Kebangkitan Nasional diawali oleh kaum priyayi terdidik. Pada saat itu Boedi Oetomo yang didirikan pada tanggal 20 Mei 1908 menjadi organisasi yang berfokus pada pendidikan dan budaya, terutama orang-orang priyayi yang mengenyam pendidikan dari STOVIA. Namun dalam perkembangannya Boedi Oetomo menjadi organisasi politik.

Saya disini tidak akan mempermasalahkan apakah benar Boedi Oetomo yang menjadi pendorong kebangkitan nasional mengingat pada saat itu Sarekat Islam lebih memiliki anggota yang lebih banyak dan impact yang lebih besar. Tanggal 20 Mei ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Nasional baru pada tahun 1948 untuk menyemen rasa cinta dan nasionalisme masyarakat Indonesia pada saat itu agar mau bersatu padu. Pemilihan tanggal berdirinya Boedi Oetomo sebagai basis pembentukan Hari Kebangkitan Nasional lebih dilandasi alasan politik karena dinilai lebih netral dibandingkan dengan yang lain.

Mengingat sekarang, kira-kira apakah kita sudah bangkit? Terutama dalam generasi millenial sekarang ini. Apakah kita sudah mencapai kebangkitan nasional? Mengingat kebebasan berekspresi lebih suka pilih-pilih dimana yang berkaitan agama atau golongan terntentu lebih mendapat perhatian (contoh kasus real Pak Ahok). Terorisme yang meraja lela (kasus terbaru di Surabaya dan Riau), dan trend khilafah khilafah yang katanya mau menggulingkan negara Indonesia.

Saya rasa sekatang kita maish berproses menuju kebangkitan nasional. Karena memang benar kata Pramoedya, bahwa Kebangkitan Nasional itu adalah proses. Pertanyaannya apakah prosesnya bisa efektif dan efisien? Apakah intelektual Indonesia dan anak muda nya mau kembali dan membangun Indonesia untuk menyusul negara-negara lain menjadi negara maju? Jawabannya saya tidak tahu. Saya tahunya bahwa ada teman-teman saya yang sedang studi di luar negeri. Banyak. Semoga mereka akan kembali ke negeri ini, tidak berubah kewarganegaraan. Karena sayang sekali kalau kebangkitan nasional hanya mimpi karena Indonesia dipandang tidak trendy, fashionable, atau cukup maju untuk diperjuangkan.

My name is Manaf, a full time learner. Passionate about sustainable development, environment, and youth education.

One Thought on “Hari Kebangkitan Nasional 2018”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *