Ketika membuka grup line PIMNAS 2017, saya dikejutkan dengan berita heboh lagi yang sebenarnya sudah lama. Jadi ceritanya begini, adik kelas saya membuat suatu karya ilmiah tentang pembangkit listrik berkonsep free energy dan zero emission dari magnet. Sayangnya, banyak yang salah kaprah dengan karya dia sehingga mengatakan bahwa karya dia ini menyalahi hukum termodinamika lah, salah lah. Gak mungkin lah. Bodoh lah yang bikin. Hingga almamater saya disebut-sebut gak becus mendidik mahasiswa. Parahnya lagi, juri PIMNAS juga diolok-olok karena bisa-bisanya meloloskan karya “sefenomenal” ini.

Karena selama kuliah saya lebih berkutat ke nanomaterial dan tissue engineering, saya kurang paham dengan karya adek kelas ini. Tapi setelah ditelusuri yang mereka buat itu adalah magnetic motor yang mengubah energi kinetik menjadi listrik kemudian karena magnet atau gaya lain menghasilkan outputnya yang lebih besar. Nah, dari sinilah banyak yang bertanya karena secara hukum termodinamika 1 tidak mungkin. Tapi dari data mereka tegangan input dan putput beneran beda. Outputnya lebih besar dibandingkan inputan. Saya kurang paham caranya bagaimana, tapi dari penjelasan si anak ini disebut free energy dan zero emission. Free energy karena jika hal ini benar-benar dilakukan, harga listrik akan lebih murah dan elektrifikasi di Indonesia akan merata, tidak tergantung pada PLN. Zero emission karena sebenarnya emisi GHG nya akan sangat rendah. Tentunya kalau alat ini berhasil dibuat dan dipasarkan, sayangnya lagi. Masih banyak dilakukan penelitian mengenai konsep ini.. Karya yang serupa bisa dilihat disini.

Sayangnya lagi, netizen ini savage banget. Langsung olok-olok bahwa ini tidak mungkin. Saya akui, jika baca sekilas judul mereka rasanya nggak mungkin. Tapi kalau sudah baca ISI dari karya mereka itu masuk akal. Buktinya, alat mereka bekerja, meski saya tidak tahu apakah benar nilai outputnya lebih tinggi atau tidak.

Parahnya itu komentar yang dilontarkan tidak membangun sama sekali. Ikut saja mencela tanpa ada klarifikasi. Sehingga saya sebagai senior marah dan kesal dengan netizen ini. Tidak bisakah dijadikan topik ilmiah untuk didiskusikan? Baca jurnal kembali?

Netizen kita lebih suka mengolok-ngolok daripada berkarya sepertinya. Jadi ingat kasus delegasi debat Indonesia yang dikomentari pakaiannya. Para tuan-tuan dan nyonya-nyonya yang berkomentar itu sudah menyumbang apa memangnya ke Indonesia? Sudah menyumbang apa ke almamater? Desa? Paling cuma ikut menyumbang angka konsumerisme.

Jadi, kalau ada isu heboh viral seperti ini, jangan langsung reaktif (Apalagi yang berkaitan dengan dunia ilmiah). Be proactive, hubungi sang inovator. Tanya dan diskusi, bagaimana karya ini bisa dijadikan kenyataan. Kamu gak setuju, siapkan counter-argument yang ilmiah, yang terdidik. Bukan asal bikin komen di line, instagram, atau facebook. Ini adalah contoh yang bagus (KLIK DISINI)

 

Mahasiswa UNAIR Ciptakan Pembangkit Listrik Free Energy, Zero Emission, dan Portable

My name is Manaf, a full time learner. Passionate about sustainable development, environment, and youth education.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *