Persoalan Tenaga Kerja Asing (TKA)

Peraturan Presiden Republik Indonesia (Perpres atau PP) Nomor 20 Tahun 2018 yang akan berlaku mulai Juli nanti menuai banyak kontroversi. Terutama pada peringatan Hari Buruh Internaisonal pada tanggal 1 Mei kemarin, Perpres ini banyak disoroti dan dituntut untuk tidak diberlakukan.

Menilik Perpres yang megatur tenaga kerja asing ini, saya tidak melihat batasan TKA semacam apa yang boleh dan tidak boleh bekerja di Indonesia. RPTKA (Rencana Penggunaan Tenaga Kerja Asing) hanya berisi formulir dasar seperti alasan penggunaan TKA, jabatan dalam struktur perusahaan, jangka waktu, dan penunjukan tenaga kerja pendamping seperti yang ada pada Pasal 7.

Padahal, Perpres ini dibuat untuk memberikan kemudahan alih pengetahuan dan teknologi untuk pekerjaan yang tidak mungkin diisi oleh masyarakat lokal atau belum ada yang memiliki kualifikasi tersebut di Indonesia.

Mengingat semakin tingginya pembangunan dan ilmu pengetahuan dan teknologi, perlu juga percepatan transfer ilmu antar tenaga ahli dengan Indonesia. Perpres ini diharapkan mampu mewujdukan hal tersebut. Sayangnya, didalam Perpres ini masih general sekali peraturan yang tertulis.

Memang benar, bahwa persepsi Perpres ini mengundang TKA berkualitas buruh atau invasi TKA kedalam tenaga kerja di Indonesia santer disemarakkan karena Pilpres 2019 yang semakin dekat. Namun sebagai masyakarat terdidik tidak boleh asal mengekor. Harus dilihat mana yang benar.

Berdasarkan Kementerian Pekerjaan, TKA di Indonesia kurang dari 100.000 jiwa. Sangat sedikit dibandingkan 125 juta tenaga kerja Indonesia. Sedangkan jumlah TKI yang bekerja diluar negeri sebagai buruh, asisten rumah tangga, dan lain lain mencapai 6 hingga 9 juta orang.

Nyatanya peraturan ini hanya memiliki batasan untuk jabatan tertentu yang tidak boleh diisi oleh orang asing. Namun tidak ada perlindungan untuk pekerjaan kasar seperti kuli, supir, dan lain sebagainya. Artinya pekerjaan kasar tersebut bisa diisi oleh orang asing asal Perusahaan penyuplai tenaga asing tersebut mendapatkan izin dari kementerian atau imigrasi. Dari sini lah kekhawatiran itu muncul. Karena kita tahu sendiri orang-orang diatas sana sangat mudah untuk disogok dan diiming imingi oleh duit.

 

Gambar dariĀ https://regional.kompas.com/read/2018/05/01/16471961/may-day-ribuan-buruh-ring-i-jatim-masuk-surabaya

My name is Manaf, a full time learner. Passionate about sustainable development, environment, and youth education.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *