Sampah, oh sampah

Pada tanggal 7 Juni 2018 lalu saya mengikuti Zero Waste to Oceans Conference yang diadakan oleh R.O.L.E Foundation Bali. Konferensi ini akan membahas sampah dan permasalahan yang ada di dunia, terutama Bali dengan konsep panel bersama berbagai macam komunitas lingkungan dan bisnis di Bali.

Ada sekitar 150 orang yang hadir pada acara tersebut dari berbagai macam komunitas, bisnis, konsultan, dan individu seperti Merah Putih Hijau, Trash Heroes, Bye bye plastiks, Malu Dong Buang Sampah, Bali Sustainability Hub, dan masih banyak lagi.

Masalah yang dibahas pada saat ini adalah sampah yang ada di Bali. Permasalahan samaph di Bali mendapatkan perhatian lebih sejak video seorang penyelam dari UK berenang diantara sampah di laut Bali. Saya sendiri pun mempostingnya tanpa tahu bahwa apa yang saya lakukan juga banyak dilakukan oleh orang lain.

Acara ini juga bertepatan dengan World Environment Day yang jatuh pada tanggal 5 Juni 2018 dan bertemakan #BeatPlasticPollution atau Perangi Polusi Sampah. Hal ini memang patut menjadi perhatian karena sampah plastik semakin hari semakin menggunung. Permasalahan semakin berat karena dari banyaknya sampah plastik yang ada, hanya sebagian sjaja yang di daur ulang. Sisanya menumpuk di TPA dan terbuang kelaut, merusak biota yang ada dan kesehatan kita. Selain itu, kebanyakan plastik didesain untuk dijadikan hanya sekali pakai. Jika tingkat konsumsi dan manajemen sampah tetap seperti ini, maka diperkirakan pada tahun 2050 akan ada 12 billion ton sampah yang ada di tempat pembuangan.

Hal yang paling menakutkan akan plastik adalah kebanyakan dari mereka tidak bisa terdegradasi. Sehigga butuh waktu ratusan bahkan bisa ribuan tahun agar plastik ini lenyap dari bumi. Ketika plastik hancur, mereka akan menjadi partikel partikel plastik yang semakin kecil yang disebut dengan mikroplastik. Mereka bisa masuk kedalam rantai makanan kita karena mikroplastik dalam lautan akan dimakan oleh ikan dan terakumulasi dalam tubuh mereka sebelum kita makan.

Mikroplastik ini akan sulit untuk dibersihkan dan diamati. Mikroplastik juga sudah sering ditemukan pada garam komersil, dan banyak studi menyebutkan bahwa 90% air minum kemasan dan 83% air keran mengandung mikroplastik. Sayangnya, belum ada penelitian lebih jauh mengenai dampak mikroplastik bagi kesehatan.

Sekarang kita tahu problem yang ada. Lalu bagaimana solusi yang bisa kita lakukan? Acara kemarin banyak diskusi apa yang bisa dilakukan oleh komunitas untuk menyelamatkan lingkungan Bali dari sampah plastik. Tindakan kuratif seperti aksi bersih sampah dari pantai bukan solusi yang sustainable.

Dari berbagai diskusi solusi utama dalah pendidikan mengenai sampah dan manajemen sampah. Terutama pendidikan pada anak-anak. Menurut saya pendidikan sampah ini penting agar mereka mau membuang sampah pada tempatnya, sadar akan bahaya sampah, dan mau beraksi mengurangi sampah.

Namun ada yang lebih penting daripada ini. Yakni pola konsumsi yang harus dirubah. Pendidikan hanya alat, yang paling penting adalah aksi. Setiap orang harus mulai mengurangi konsumsi sampah plastik, hidup lebih ramah lingkungan. Selalu menggunakan prinsip 3R (Reduce Reuse, Recycle) merupakan suatu konsep yang sangat familiar dan sangat penting dalam penanganan sampah. Lebih penting lagi, semuanya harus dimulai dari kita pribadi masing-masing.

My name is Manaf, a full time learner. Passionate about sustainable development, environment, and youth education.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *