Pada tanggal 6 Januari 2018 kemarin saya mengambil tes IELTS di IALF Surabaya. Pengalaman tes IELTS ini cukup menyenangkan dan menegangkan, karena baru kali ini saya melakukan tes IELTS. Apalagi, baiay tes IELTS itu cukup mahal, yakni Rp 2.850.000. Namun demi mimpi kuliah S2 di universitas yang berkualitas di luar negeri, biaya segini pun harus ikhlas. Kalau dalam peribahasa jawa jer basuki mawa beya, yang artinya jika ingin kebahagian memang butuh pengorbanan.

Persiapan

Pendaftaran IELTS

Hal pertama yang saya lakukan ketika sudah tahu akan mengambil tes IELTS adalah mencari tempat yang cocok dan nyaman. Mulailah browsing-browsing. Setahu saya waktu itu di Surabaya kalau mau tes IELTS harus mengambil di di British Council atau IALF.

Hal yang saya bandingkan pada saat itu adalah kenyamanan, biaya dan tempat yang terjangkau. Baiya tes IELTS kalau di British Council ternyata lebih mahal 50 ribu dibandingkan dengan di IALF, nilai plus untuk IALF. Selain itu, kalau di British Council Surabaya katanya tesnya adalah di ballroom hotel, saya pribadi kurang nyaman. Lebih suka suasana kelas disbanding di hotel yang saya yakin sound system dsb pasti berbeda dengan ruangan kelas yang memang dari dulu dipakai untuk tes IELTS. Di IALF tes Speaking dilakukan pada hari yang sama, namun di British Council tidak. Setelah melakukan pertimbangan akhirnya saya putuskan untuk memilih IALF.

Sehingga pada tanggal 3 November 2017 saya berangkat naik Gojek ke kantor IALF Surabaya untuk mendaftar. Disana, saya harus mengantri dulu, sambil menunggu saya melihat-lihat tarif les disana. Melihat harganya, keputusan saya untuk belajar IELTS secara mandiri semakin mantap.

Setelah itu saya didampingi oleh customer service yang ada disana untuk mengisi form online di area kanan lobi IALF lantai satu. Sebenarnya form online ini juga bisa diisi sendiri di rumah dan pembayaran bisa dilakukan secara transfer, namun saat itu saya sekalian ingin tahu berapa lama kalau naik Gojek, sehingga bisa memperkirakan waktu tes mau berangkat jam berapa. Pada saat medaftar jangan lupa membawa kartu identitas, baik itu KTP atau paspor. Saya lebih memlih paspor karena fotonya lebih bagus dan expirednya masih 2020. Kartu identitas ini digunakan sebagai kartu pendaftaran sekaligus sebagai nomor pendaftaran kita.

Setelah mendaftar online selanjutnya saya membayar ke kasir. Setelah pembayaran selesai  saya kembali lagi ke meja registrasi di lobi untuk dikonfirmasi pendaftaran saya. Disana saya diberi kertas kecil yang memberitahukan apa saja yang perlu saya bawa saat tes nanti dan juga waktu yang dibutuhkan. Akhirnya, uang hampir 3 juta melayang demi mimpi.

Baca juga :

Belajar Otodidak IELTS

Setelah urusan pendaftaran selesai, yang saya lakukan selanjutnya adalah belajar secara otodidak. Kebetulan saat itu saya masih menganggur sehingga dari bulan November hingga Desember waktu saya gunakan untuk belajar IELTS secara intensif. Di bulan November saya hanya mempersiapkan materi, mengatur jadwal, mental, belajar tentang IELTS dan cara menjawabnya seperti apa dan juga mengisi kegiatan di UKM Unair.

Buku yang saya gunakan adalah The Official Cambridge Guide to IELTS dan buku Cambridge IELTS Academic book 7. Jujur, saya hanya belajar memakai dua buku itu saja karena sudah cukup banyak materi dan contoh-contoh soal IELTS yang ada. Ditambah kamus saku Oxford dan Thesaurus.

Setiap hari yang saya lakukan adalah mengerjakan setidaknya satu bagian dari IELTS. Seperti Reading saja, atau Listening saja dan seminggu saya harus ada waktu untuk melakukan simulasi tes dari awal hingga akhir.

Saya tahu kemampuan saya paling bagus ada di Reading dan Listening. Sedangkan paling perlu peningkatan ada di Writing. Maka selama dua bulan itu saya maksimalkan kemampuan Listening dan Reading saya sambil belajar Writing dan Speaking.

Untuk listening dan reading saya benar-benar melakukannya secara santai sejak November. Saya sering baca-baca novel, berita dari The Jakarta Post dan artikel-artikel ilmiah. Untuk meningkatkan vocabulary, saya catat kosakata yang saya kurang familiar di buku saya. Selain itu saya sering melihat channel Youtube dan mendengarkan audiobook dalam British Accent. Saya kebetulan suka sekali Narnia dan Harry Potter dan saya dengarkan audiobook itu sambil tidur. Hal ini saya lakukan karena di IELTS itu menggunakan British Accent, sehingga kita harus familiar dengan itu.

Untuk Writing dan Speaking, saya membiasakan menulis dan berbicara sendiri dalam Bahasa Inggris (saya masih waras kok). Selain itu saya juga melihat-lihat website yang bagus tentang IELTS writing dan speaking. Saya suka berbicara sendiri dalam Bahasa Inggris, dan mulai mengaktifkan kembali mode Bahasa Inggris saya. Saya usahakan saya tidak berpikir dalam Bahasa Indonesia, tapi langsung dalam Bahasa Inggris. Kebiasaan selama satu bulan ini akan sangat bermanfaat ketika kita akan menulis dan berbicara karena Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris itu berbeda dan kemampuan merubah bahasa dalam sekejab itu sangat penting, maka saya biasakan hal ini.

Dari berbagai macam sumber saya catat kata-kata yang sekiranya sering keluar dalam Writing dan Speaking. Frasa dan juga peribahasa yang sekiranya bisa meningkatkan skor saya catat dalam buku saya. Istilah-istilah terutama dalam Writing Task 1 saya pelajari betul, seperti increasing, decreasing dan sinonimnya dan cara-cara lain untuk menyebutkan kata itu. Speaking pun demikian, istilah-istilah yang sekiranya penting saya catat dan saya hafal.

Saya tidak menghafalkan tema-tema apa saja yang muncul dan menghafalkan jawaban. Dari buku yang saya baca hal tersebut bisa memperjelek skor kita. Jadi saya lebih fokus pada perbendaharaan kata yang lebih tinggi dan bagaimana menulis dan berbicara yang baik saat tes IELTS.

Latihan soal setiap hari saya lakukan umumnya setelah bangun tidur, siang hari, dan malam hari sebelum tidur. Tidak ada kewajiban harus mengerjakan apa pada hari itu, cukup saya sedang tertarik dengan apa, saya pelajari. Saya amati benar-benar berapa skor saya. Berapa rata-rata saya salah di Listening dan Reading sehingga saya bisa tahu kira-kira berapa skor yang akan saya dapatkan nanti. Prediksi ini sangat penting agar kita bisa tahu target kita seberapa dan kita bisa mengejar target itu.

Target saya waktu itu adalah 7 dengan rincian 8 untuk Listening dan Reading dan 6 untuk Speaking dan Writing. Karena saya tahu kemampuan saya di Listening dan Reading bisa saya push untuk nilai 8. Jadi bagian Reading yang Yes/No/Not Given atau True/False/Not Given benar-benar saya coba kuasai karena ternyata mayoritas kesalahan saya ada disini.

Jadi mengenai kemampuan berbahasa kita di setiap section di IELTS itu penting. Ini sudah tidak aspek berbahasa apa dari kita yang kurang, namun sudah sangat spesifik ke tipe soal seperti apa di IELTS yang perlu kita pelajari lebih jauh untuk meningkatkan skor. Dari ini saya tahu bahwa di Listening saya lemah dalam mendengarkan angka-angka, di writing saya lemah di pemilihan grammar, dan di speaking saya cendering berbicara terlalu cepat. Dari analisis yang saya lakukan di akhir November ini saya bisa menyusun strategi di bulan Desember. Kegiatan saya di bulan ini benar-benar mengerjakan soal, evaluasi, mengerjakan soal, evaluasi.

Baca juga :

My name is Manaf, a full time learner. Passionate about sustainable development, environment, and youth education.

2 Thoughts on “Pengalaman Tes IELTS : Part 1”

  • kak, saya juga mau ielts (makanya mampir ke mari hehehe) terus ditawari kelas prep. menurut kakak, perlu gak ambil kelas prep? klo saya lebih nyaman belajar sendiri kayak kakak. terus grogi gak kak pas tesnya?

    • Halo Shinta, tergantung kamu nya. Seberapa kemampuan kamu. Terus ada dana kah? Karena saya cenderung dana mepet untuk tes, makanya tidak ambil kelas preparation. Kalau TOEFL kamu sudah diatas 500 belajar IELTS sendiri bisa kok. Waktu tes gak grogi karena waktu belajar harus benar-benar dikondisikan seperti tes. Biasa aja sih, kayak ujian seperti biasa kok.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *