Pada Saat Ujian

Sorenya saya siap-siap belanja untuk bekal makan siang waktu tes. Malam sebelum ujian, saya tidur lebih awal sambil mendengarkan audiobook Narnia (meski setlah 5 menit saya sudah terlelap). Bangun pagi sholat Subuh kemudian saya cek persiapan untuk tes hari ini. paspor, pensil, penghapus, dan bolpoin.  Setelah itu bikin sandwich, mandi. Sebelum berangkat sholat Dhuha dulu setelah itu sarapan. Terus saya sempatkan untuk listening dan reading masing-masing satu section untuk pemanasan.

Akhirnya saya berangkat naik Gojek dan sampai di IALF jam 07.30. Masih ada waktu untuk menunggu. Ada cukup banyak anak disana yang juga menunggu. Saya putuskan untuk mendengarkan audiobook harry potter karena saya bingung mau bertukar sapa dengan siapa. Everybody look busy with their last minute cramming or just texting somebody else. Anak cewek ITS yang saya ajak bicara ternyata diantar pacarnya, padahal sang pacar tidak ikut tes. Saya hanya bisa tersenyum sambil meringis dalam hati (enak ya, ada yang setia menemani).

Seharusnya cek ID dimulai pukul 8 namun ternyata baru dimulai jam 08.30 dan karena saking banyaknya peserta, tes baru dimulai pukul 10.00, mundur satu jam dari jadwal. Tas dan barang-barang dititipkan di lantai dasar dan kita harus naik ke lantai 1 di semacam ruangan besar. Disana kita melakukan cek ID.

Cek ID dilakukan dengan foto, kemudian sidik jari. Setelah itu kita masuk tanpa membawa bolpoin, pensil, atau penghapus karena IALF menyediakan itu semua. Namun saya tetap membawa bolpoin meski ternyata tidak jadi saya pakai. Selain itu saya juga membawa botol minum yang transparan.

Setelah penjelasan dari penjaga barulah dimulai tes listening.

Listening

Listening section di IELTS ada 4 bagian. Bagian pertama Listening adalah percakapan umum antara dua orang. Pada saat itu percakapan yang terjadi adalah tentang pemesanan kasur. Jadi saya harus mencatat nomor handphone dan juga kode pos. Alhamdulillah lancar. Bagian kedua itu melabeli peta kebun/pertanian. Saya kurang fokus disini dan ada beberapa bagian yang miss karena saya terlalu lama membaca soal sebelumnya. Bagian ketiga tentang percakapan dua orang dalam akademis lancar, mungkin ada satu yang missed. Namun yang bagian keempat Alhamdulillah lancar juga.

Baca juga :

Reading

Sejujurnya saya sudah lupa yang keluar saat reading kemarin apa saja. Namun Alhamdulillah I nailed the True/False/Not Given and Yes/No/Not Given questions. Jadi saya senang sekali. Namun memang disini saya benar-benar mengejar waktu karena saya tahu bahwa pertanyaan reading di IELTS akan semakin sulit. Dari tiga sesi Reading, pertanyaan paling sulit biasanya di sesi 3 sehingga meski dianjurkan untuk 20 menit setiap sesi saya cepat-cepat kerjakan semua agar punya waktu berlebih di sesi tiga. Untuk tipe pertanyaan tentang mencocokkan heading nya tidak sulit dan bisa saya lalui. Perlu diketahui, di bagian reading tidak ada tambahan waktu untuk menyalin jawaban ke lembar jawaban, jadi manajemen waktu benar-benar harus bagus.

Writing

Writing memiliki 2 pertanyaan yang harus dikerjaan dalam saktu satu jam. Pertanyaan pertama saat itu mengenai grafik dan saya bersyukur sekali karena dengan background saya grafik dan table adalah makanan sehari-hari. Akhirnya saya menulis sekitar 180 kata dalam waktu secepat mungkin, sekitar 20 menit. Pertanyaan kedua mengenai apa pendapat saya tentang individual sport vs group sport, kira-kira bagusan yang mana. Waktu 40 menit benar-benar saya gunakan untuk merangkai paragraph dahulu, membuat draft dan akhirnya saya tulis. Saya kira-kira maish punya waktu 5 menit untuk mengoreksi kalimat-kalimat yang ada. Saya fokuskan di bagian task 2 karena nilainya memang lebih besar di task 2 dibandingkan task 1.

Setelah tiga jam duduk mengerjakan soal, alhamdulilah ada jeda waktu sebelum tes Speaking untuk sholat dan makan siang. Tes saya yang harusnya dilakukan pada pukul 13.30 harus dimulai pukul 14.30 dan saya harus sudah menunggu pukul 14.00 di ruang tunggu.

Speaking

Di speaking saya mendapatkan orang yang namanya perpaduan Indonesia dan luar negeri. Saya kurang tahu dia orang Indonesia atau bukan, tapi bisa saja kewarganegaraan Australia. That wasn’t important. Dia berbicara dengan American Accent (padahal sudah ngarep dapat British Accent). Setelah sesi basa-basi ada ada pertanyaan tentang teman dan hobi. Saya jelaskan lah disitu. Terus sesi kedua ada kartu yang menanyakan bagaimana perjalanan pertama kali naik mobil keluar kota. Saya ceritakanlah kisah saya yang memalukan karena muntah waktu ke Malang ketika saya SMP. Jadi saya agak humor juga. Di sesi speaking ketiga lebih diskusi mengenai mobil dan lingkungan. Alhamdulillah kosa-kata berat bisa saya keluarkan disini.

Penilaian dalam Speaking ini adalah Fluency and Coherence, Lexical Resource, Grammatical Range and Accuracy, dan Pronunciation. Aksen tidak dinilai, jadi tenang saja kita tidak harus punya British Accent untuk nilai bagus. Saya cenderung menggunakan American Accent pada saat itu. Meski waktu belajar sudah diwanti-wanti bahwa ketika bebicara mending tenang, saya terlalu bersemangat dan berbicara terlalu cepat akhirnya ada beberapa kata yang kleseo dan harus mengulangi lagi. Overall, examiner saya ramah dan menyenangkan, saya seperti ngobrol dengan teman.

Hasil tes akan diberikan setelah 13 hari. Akhirnya pada tanggal 19 saya iseng buka website disini, https://results.ieltsessentials.com/ saya tahu bahwa saya lulus tes IELTS. Alhamdulillah dan sempat tidak percaya dengan hasil yang saya dapat, karena diatas target. Waktu mendaftar yang penting uang 2,85 juta tidak hangus dan saya tidak perlu mengulang. Alhamdulillah saya bisa mendaftar di universitas luar negeri akhirnya.

Alhamdulillah sekali saya bisa mendapatkan skor 7.5. Tidak menyangka karena ada yang bilang bahwa tes IELTS itu SULIT BANGET. Namun saya tidak terlalu percaya karena dulu waktu SMA sudah pernah mengambil tes dengan model sejenis. Ternyata benar dugaan saya, Listening 8 berarti saya salah sekitar 5 soal (pasti yang bagian melabeli peta). Untuk Reading sendiri, saya mendapatkan skor 8.5 (Kucinya adalah teliti dan koreksi berkali-kali). Di Writing saya mendapatkan skor 6.5, cukup rendah dibandingkan yang lain namun memuaskan. At least masih diatas 6. Skor terakhir adalah Speaking dengan nilai 7.5. Saya tidak menyangka sekali, padahal saya pikir saya akan mendapat 6.5 namun ternyata apa yang saya katakan bisa dipahami oleh examinernya.

Dari pengalaman tes IELTS ini ada banyak hal yang saya dapatkan, terutama mengenai kemampuan Bahasa Inggris yang sebenarnya bisa kita pelajari sendiri asalkan kita mau berusaha keras.  No matter what your background is, the key is in our grit and perserverance. Saya yang dulunya gak bisa ngomong dan nulis Bahasa Inggris waktu SMP sampai sekarang baca buku sampai lupa kalau itu buku Bahasa Inggris karena memang belajar terus menerus.

Lha Mas, aku iki soko ndeso. Yo opo iso belajar boso Inggris. Tenang, saya juga dari desa. Bahkan lebih desa saya dibandingkan dengan rumah kamu. Semuanya bisa dilakukan asalkan ada kemauan dan usaha. Tentunya doa harus selalu dipanjatkan. Minta restu ke orang tua itu penting, jadi aspek ini jangan dilupakan. Setiap doa itu membantu. Jadi, jika kamu akan mengambil tes IELTS dan budget terbatas, rajin-rajinlah belajar saya yakin kamu pasti bisa!

You can also ask me anything by writing in the comment section below.

Baca juga :

My name is Manaf, a full time learner. Passionate about sustainable development, environment, and youth education.

3 Thoughts on “Pengalaman Tes IELTS: Part 2”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *