Selamat! Kamu sudah diterima untuk kuliah di Belanda! Sebentar lagi, kamu perlu berangkat kesana. Nah, apa saja yang perlu dipersiapkan sebelum kamu terbang kesana? Simak ulasan dari pengalaman saya saat memulai keberangkatan Februari lalu di bawah ini.

  1. MVV dan Administrasi yang lain

Visa untuk kuliah di Belanda itu berbeda dengan visa turis, jadi mengurusnya pun berbeda. Pastikan ikuti syarat yang sudah ditentukan. Pastikan masa berlaku paspor lebih panjang daripada lama studi kamu. Selain paspor, MVV, bawa juga KTP. Aku sendiri tambah bawa akta kelahiran, katanya diperlukan tapi selama studi di WUR ternyata tidak dibutuhkan.

Untuk jaga-jaga, aku scan semua nih dokumen dan juga difotokopi. Jadi jika ada sewaktu-waktu kebutuhan nanti akan gampang.

  1. Housing

Housing di Wageningen mayoritas dihandle oleh Idealis. Semacam perusahaan housing yang bekerjasama dengan WUR secara langsung dan menyediakan berbagai macam tipe apartemen/asrama mahasiswa di Wageningen. Kamu harus daftar di room.nl dan membayar sekitar 36 euro. Semakin lama mendaftar, makan kamu akan semakin di prioritaskan. Namun tenang, kalau kamu internasional students, nanti kamu akan masuk priority list yang memberikan garansi nanti kamu pasti dapat tempat. Sebelum berangkat kuliah ke luar negeri pastikan kamu sudah menandatangani kontrak housing, setidaknya seminggu sebelum berangkat. Pembayarannya memakai euro.

  1. Bank

Wageningen University & Research bekerjasama dengan bank ABN Amro untuk mahasiswa internasional. Registrasi akan dibantu oleh universitas. Yang dibutuhkan adalah Passport, KTP, NPWP Indonesia, dan proof of enrolment. Selain itu juga dibutuhkan BSN (semacam nomor kependudukan Belanda yang perlu kamu urus ketika datang disini). Jadi registrasi saat di Indonesia, tanda tangan kontrak dan sebagainya saat sudah sampai. Kenapa? Karena di Belanda mayoritas kalau belanja sudah cash less. Jadi tinggal tap kartu ke mesin. Apakah Bank Indonesia bisa digunakan? Bisa banget. Mobile Banking saya yang BNI dan Mandiri masih bisa dipakai. Jadi masih bisa kirim hadiah ke pacar, temen atau keluarga di Indonesia lewat marketplace. Teman-teman disini juga memakai Jenius, dan perlu daftar di Indonesia. Karena bank di Belanda itu memakai Maestro, sedangkan kalau mau beli online lewat ebay atau amazon biasanya dibutuhkan Visa atau Master Card.

  1. Tiket Pesawat

Pastikan sudah mendapatkan tiket pesawat. Paling enak memakai maskapai Garuda Indonesia, namun itu semua tergantung kalian. Karena kemarin saya beasiswa LPDP, kami semua memakai Garuda Indonesia dan memesan tiket bersama-sama dengan teman-teman lain agar berangkat bersama-sama meski berbeda kota, akhirnya transit bertemu dengan teman yang lain.

Akhirnya ketemu dengan teman-teman yang selama ini hanya komunikasi lewat WA. PS: Ini hanya sebagian saja.
  1. Uang Saku

Berapa uang cash yang perlu kita bawa saat ke Belanda? Saya kemarin hanya bawa uang cash 50 euro. Sedangkan uang rupiah hanya 100 rb an. Kemudian saya mengikuti bantuan dari universitas yang memberikan kita semacam pinjama uang 300 euro untuk biaya hidup. Nanti akan dipotong dari living allowance kita ketika sudah cair. Lumayan, uang 300 euro itu cukup untuk hidup sebulan (tanpa biaya sewa kamar)

  1. Pakaian

Tidak perlu membawa baju dingin dari Indonesia, kecuali kamu berangkat saat winter seperti saya kemarin. Saya memutuskan untuk membeli satu jaket bekas di Indonesia seharga 100rb. Disini saat winter akan ditemukan banyak sekali jaket yang harganya murah meriah. Bahkan bisa beli baru seharga 100rb. Jadi bawa saja yang cukup. Setidaknya kamu bawa jaket biasa untuk layer, karena di Belanda itu sering hujan dan cuaca tidak menentu. Saat summer ini kadang bisa hujan dan suhu 12 derajat, jadi mau tidak mau harus memakai jaket (tapi tidak perlu yang tebal untuk winter). Jaket yang biasa kamu pake saat motoran itu cukup.

  1. Obat-obatan, keperluan pribadi atau skin care

Kalau kamu sudah cocok dengan barang yang hanya ada di Indonesia, mending bawa saja. Contohnya mungkin adalah obat jerawat atau obat yang lain seperti tolak angina, minyak kayu putih dan sebagainya. Karena disini lebih mahal.

Kalau kamu memakai kacamata, bawa dari Indonesia saja. Mungkin sedia frame cadangan karena disini kacamata mahal, harganya bisa jutaan.

  1. Barang-barang khas Indonesia

Karena saya suka art and craft jadi saya bawa barang-barang khas Indonesia seperti kain batik, tas rotan dan baju adat. Jarang banget sebenarnya nanti kamu memakai hal seperti ini. Tapi baik adanya untuk dibawa karena saat acara tertentu nanti bisa dipakai atau dijadikan pajangan di kamar.

  1. Hal-hal lain
  • Bawa botol minum sendiri. Bisa juga membeli disini namun kalau sudah membawa barang dari Indonesia, saat perjalanan nanti kamu bisa zero waste.
  • Rempah-rempah atau bumbuh seperti bon cabe, sambal kacang buatan orang tua, sambal bahkan rendang harus dibungkus dengan rapi dan tidak berpotensi bocor. Jangan ditaruh luar karena kemarin ada teman bawa rendang tidak lolos di bandara. Namun ada cerita kalau rendangnya di taruh koper dan ditutup baju bakalan OK.
  • Lampu putih. Di Belanda ini lampunya warm white dan sulit mencari lampu putih seperti yang di Indonesia. Sejujurnya, karena di rumah juga memakai lampu warm white jadi saya Ok saja. Sempet mencoba memakai lampu putih tapi ternyata terlalu terang.
  • Ruoter. Penting untuk punya, bisa beli disini secondhand. Tapi kalau lebih murah beli saja di Indonesia.
  • Rice cooker: Bisa beli disini juga, tapi lumayan mahal. Bisa juga beli second hand dari senior yang mau pulang, tapi ya tidak semuanya bisa dapat. Kalau memang ada space bisa saja dibawa.

Attention please!

Karena pandemi, pastikan kalian membawa reusable mask dari Indonesia dan dukung ekonomi disana. Saya punya tiga masker yang semuanya dari Indonesia. Satu dari teman baik saya yang punya usaha membuat masker sejak dulu. Duanya lagi merupakan masker yang berbau Indonesia karena ada tenunnya. Selain itu juga bawa selalu hand sanitizer dan jaga jarak!

Kalian bisa cek maskernya di Instagram mereka di bawah ini

Simak disini, seminggu pertama di Belanda

My name is Manaf, a full time learner. Passionate about sustainable development, environment, and youth education.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *