Seberapa Melek-kah Kamu Tentang Privasi Online dalam Sosial Media?

 

Populasi Indonesia pada tahun 2017 ada dalam kisaran 262 juta jiwa (WorldBank). Pengguna internetnya lebih dari 50%, yakni 143.26% pada tahun 2017. Berdasarkan survey yang ada mencakup 2500 responden ditemukan bahwa Pulau Jawa memiliki pengguna internet tertinggi, yakni 58.08% diikuti oleh Sumatra sebesar 19.09 persen, Kalimantan 7.97%, Sulawesi 6.73%, Bali, NTT, NTB 5.63% dan paling rendah adalah Maluku dan Papua (2.49%) (TheJakartaPost).

Kebanyakan penggunanya didominasi anak muda umur 13-18 tahun hingga 75.5 persen dan kebanyakan adalah laki-laki sebesar 51.43 persen.

Kita memang sudah tahu bahwa pengguna internet di Indonesia itu banyak sekali. Berhubung dengan kasus Facebook yang marak bulan kemarin, saya ingin tahu seberapa besar social media literacy yang kita punya. Apakah kita paham bahwa di dalam penggunaan aplikasi social media yang gratis itu produknya adalah kita?

Akhirnya saya menyebar kuesioner di grup line yang diisi oleh random orang dari seluruh Indonesia, bermacam gender, umur, dan profesi sebanyak 75 orang.

Hasilnya diketahui bahwa mayoritas responden berumur 21 dan 22 tahun dengan persentase masing-masing 22.7 persen. Aplikasi social meia yang sering digunakan adalah Instagram, diikuti oleh Facebook dan Twitter.

Hasil dari kuesioner didapatkan bahwa hanya 30.7% responden mengaku bahwa mereka membaca privacy setting dan regulations saat pertama kali membuat akun di sosial media. Artinya banyak yang tidak tahu kebijakan privasi semacam apa yang ditawarkan oleh produk tersebut. Let’s be honest, saya sendiri juga malas membaca panduan keamanan yang banyak sekali itu.

Kita membutuhkannya untuk autonomi personal, pelampiasan emosi, evaluasi pribadi, dan komunikasi terlindungi (Westin, 1967). Contoh yang paling mudah adalah kita menutup pintu, berbicara dengan suara rendah ketika bergosip, dan menutup korden kamar. Sayangnya, ada diskrepansi antara perlindungan privasi offline dan online.

Penggunaan internet yang sangat tinggi, dengan mayoritas menghabiskan waktu dalam sosial media 4 jam lebih (49.3%) akan menimbulkan masalah yang seperti sudah terungkap dalam kasus Cambridge Analytica yang mencuri data pribadi dari pengguna media sosial Facebook karena kurangnya proteksi yang pengguna berikan pada akun mereka. Istilahnya kita tidak pernah mengunci pintu depan rumah, sehingga pencuri bisa masuk secara bebas.

Hanya 40% atau 30 orang dari 75 responden yang benar-benar tahu bagaimana membatasi akses terhadap informasi pribadi yang tersedia di akun sosial media mereka. Padahal, Cambridge Analytica dan beberapa aplikasi memang meminta kontak informasi dasar untuk mampu menggunakan aplikasi dalam Facebook atau SNS yang mereka tawarkan. Namun, Cambridge Analytica dengan curang mencuri profil Facebook tersebut dengan kedok game kepribadian.

Lalu bagimana pemahaman terhadapa basic privacy setting yang ada pada SNS? Apakah masyarakat Indonesia tahu? Saya mencoba memberikan pertanyaan-pertanyaan yang saya adaptasi dari penelitian Bartsch dan Dienlin (2016) dengan memberikan pertanyaan seputar privasi setting dalam SNS dan meminta responden menilai diri mereka sendiri dari 1-5, dari tidak tahu hingga tahu. Sehingga semakin banyak poin yang didapatan bisa disimpulkan mereka memiliki literasi paling tinggi.

Dari pertanyaan-pertanyaan diatas didapatkan hasil bahwa hanya 37,35% responden yang benar-benar paham dengan apa privasi mereka secara online. Sedangkan sisanya dari yang kurang yakin hingga tidak tahu sama sekali sebesar 3,78%. Sedangkan responden mengalami rasa aman dalam dunia online 7.567% dan 37.33% memilih antara yakin dan tidak yakin atau memilih tidak peduli dan 10.67 yang benar-benar tidak yakin dengan keamanan privasi akun sosial media mereka.

Dari hasil survey kecil-kecilan ini kita bisa mendapatkan gambaran bahwa privacy literacy netizen Indonesia masih rendah karena tidak ada separuh dari responden yang benar-benar paham dengan apa itu privasi secara online. Sehingga perlu suatu solusi untuk meningkatkan privacy literacy pada sosial online mengingat sekarang ini potensi ekonomi dalam sosial media dan internet sangat besar, maka perlindungan data pribadi juga pelru lebih ditekankan untuk menghindari pencurian identitas dan hacking yang sering terjadi.

Cara paling mudah, sering-sering cek dan atur kembali privacy regulation yang ada pada Facebook, Instagram, Twitter, dan sosial media kalian yang lain karena memberikan limitasi untuk apa yang diketahui masyarakat umum dapat menjadi pengahalang pertama jika ada akun kamu akan diretas atau privasi kamu diganggu.

Perlu kajian yang lebih lanjut mengenai hal ini namun topik ini sangat layak untuk diperbincangkan lebih jauh mengingat kajian mengenai literasi online dalam data pribadi masih jarang dilakukan oleh orang-orang. Bagi kamu anak komunikasi, this is a great topci for your research!

My name is Manaf, a full time learner. Passionate about sustainable development, environment, and youth education.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *